Begini Penanganan Hadapi Resiko Stroke Yang Tepat





Stroke Salah satu penyakit yang tidak boleh dikesampingkan dan harus mendapat perhatian secara layak adalah stroke. Riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2018 menyebut stroke sebagai penyakit yang paling banyak menyebabkan kecacatan dan kematian di Indonesia.

Dokter syaraf Dr Indah Aprianti Putri, mengatakan, data dari Kementerian Kesehatan mencatat bahwa angka pasien stroke dari 2007 sampai 208 terus meningkat tanpa memandang usia.

"Angka itu (jumlah pasien stroke) meningkat dua kali lipat di Indonesia. Tidak ada lagi perbedaan, baik itu di desa maupun di perkotaan," ujarnya.
Oleh sebab itu, Indah mengingatkan agar kita memahami langkah-langkah menghadapi risiko stroke.

Pahami Penyebab Stroke

Penting sekali untuk memahami penyebab dari stroke sebelum mencari langkah pencegahan atau penanganannya. Indah mengatakan bahwa usia merupakan faktor utama yang bisa menyebabkan stroke.
Usia di atas 75 tahun memiliki risiko sebesar 12 kali. Sedang usia 65 tahun memiliki 6 kali lipat risiko.

Hipertensi juga memiliki risiko sebesar tujuh kali. Tidak hanya itu, gangguan irama jantung pun menyebabkan risiko sekitar lima kali lipat.
"Yang lainnya (perokok, tidak berolahraga, obesitas dan sebagainya) hanya berisiko dua kali terhadap stroke," kata Indah.

Terpaku Paradigma Lama


"Jadi sebenarnya, paradigma lama itu adalah ketika kita datang ke puskesmas atau klinik, yang pasti diukur adalah tensinya dulu. Kemudian dihitung lagi kadar kolesterolnya. Berapa, sih, kadar gula darahnya, berapa berat badannya. Lalu dokter akan bilang 'Wah, bu, tekanan tensinya tinggi.'," kata Indah.
Menurut Indah, itu membuat orang yang datang jadi berpikir, 'Oh, ya, sudah, saya tensinya tinggi maka saya harus minum obat,'" katanya lagi.

Indah menjelaskan bahwa pemeriksaan seperti itu seharusnya dipikirkan ulang oleh masyarakat. Informasi mana yang berpotensi menyebabkan stroke, baik itu tensi, kadar gula darah atau pola hidup, dan sebagainya.

Posting Komentar

0 Komentar